Sabtu, 17 Desember 2011

Review Junal



“Metode SCM untuk menganalisis Bullwhip Effect guna meningkatkan Efektifitas Sistem Distribusi Produk”

 oleh Indri Parwati, Prima Andrianto


Penullis mengangkat tema ini karena Bulwhip Effect merupakan permasalahan yang sering dijumpai dalam distribusi produk. Bullwhip Effect sendiri merupakan simpangan jauh antara persediaan yang ada dengan permintaan. Di dalam rantai pasok sering terjadinya pembesaran variabilitas permintaan yang dikenal dengan istilah efek cambuk sapi (bullwhip effect) (Lee et al., 1998). Hal ini merupakan penyimpangan informasi ketika informasi yang ada berjalan dari satu mata rantai ke mata rantai lainnya dalam suatu rntai pasok. Ketidakefisienan dari efek ini antara lain adalah kelebihan persedian, penurunan tingkat pelayananterhadap pelanggan, transportasi yang tidak efektif, dan keterlambatan produksi ( Carlsson dan Fuller, 2000). 

 Penulis menganalisis masalah ini di PT Mondrian, perusahaan ini berkecimpung dalam prodksi pakaian jadi. Di perusahaan tersebut terdapat maslah-maslalah mengenai distribusi produk, persedian serta informasi. Dalam hal ini, permasalahan tersebut sangatlah saling mempengaruhi. Masalah  Bullwhip Effect  yaitu adanya simpangan yang jauh antara persediaan yang ada dengan permintaan sering kali terjadi dalam suatu perusahaan, Hal ini dikarenakan kesalahan dari interpretasi data permintaan di tiap – tiap rantai distribusi dan sistem informasi di dalam pendistribusiannya tersebut bersifat dua arah dimana  retailer  menyampaikan informasi permintaan dari konsumen ke distributor dan dari distributor lalu menyampaikan informasi ke manufaktur dan sebaliknya. Hal itu juga yang dialami oleh PT. Mondrian yang memproduksi produk pakaian jadi. Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk mengatasi kondisi diatas adalah menerapkan sistem pengendalian  Inventory Continous Review  atau biasa disebut dengan sistem Q yang merupakan sistem pengendalian yang membahas tentang penekanan biaya, mengurangi tingkat persediaan serta menetapkan dan menjamin tersedianya produk dalam kualitas, kuantitas dan waktu yang tepat.

Dalam pendistribusian hasil produknya PT. Mondrian langsung mengirimkan produk ke retailer-retailer yang menjadi mitra bisnis dari perusahaan. Retailer-retailer tersebut yang menyalurkannya ke konsumen. Dalam penelitian ini retailer-retailer yang diteliti adalah retailer-retailer yang berada di kota Yogyakarta dan Semarang yang meliputi 12 retailer yaitu Retailer Ada Siliwangi Semarang, Retailer Ada Seibudi Semarang, Retailer Ada Majapahit Semarang, Retailer Ada Fatmawati Semarang, Retailer Robinson Semarang, Retailer Sri Ratu Peterongan Semarang, Retailer Sri Ratu Pemuda Semarang, Retailer Ramayan Yogyakarta, Retailer Robinson Yogyakarta, Retailer Gardena Yogyakarta, Retailer Ramai Mall Yogyakarta, Retailer Mirota Kampus Yogyakarta. 

Hasil perhitungan nilai variabilitas menunjukan terjadinya  bullwhip effect hampir disemua produk yang dikrimkan ke retailer-retailer. Kecuali pada produk sekido untuk retailer Sri Ratu Peterongan Semarang , produk sekido untuk retailer Sri Ratu Pemuda Semarang dan produk begaya untuk  retailer  Mirota Kampus Yogyakarta. Karena masing-masing  Retailer  tersebut memiliki nilai variansi permintaan sebesar 1,28; 1,65; 1,45; yang berarti lebih besar dari nilai perbandingan antara fungsi periode dan  lead time  sebesar 1,18. Data Inventory yang didapatkan meliputi biaya simpan, biaya pesan dan biaya kekurangan persediaan.  Dari hasil pengolahan data  inventory  dengan metode sistem Q, diperoleh iterasi terbaik pada iterasi 1 untuk produk Dadung dengan total biaya persediaan Rp. 39.638.737,53. Sedangkan untuk produk Begaya iterasi terbaik pada iterasi 3 dengan total biaya persediaan Rp. 27.924.118,81 dan untuk produk Sekido  iterasi  terbaik pada  iterasi  2 dengan total biaya persediaan sebesar Rp. 52.328.084,57. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar