Tampilkan postingan dengan label SCM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SCM. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

SaaS Software Akan Meningkatkan Pelaksanaan Supply Chain, Visibilitas dan Kolaborasi

manajemen rantai suplai juga dikenal sebagai logistik jaringan, adalah sistem metode terorganisir untuk transfer efisien informasi atau barang dari ujung ke ujung. Rantai pasokan arsitektur perlu dikelola dan dipantau oleh tim ahli termasuk penyedia jasa responsif dan mitra perangkat lunak teknologi. Berkelanjutan manajemen rantai suplai tidak hanya berarti bahwa barang-barang Anda meninggalkan lantai pabrik pada waktu dan dikirimkan tepat waktu, tetapi dengan bantuan perangkat lunak Manajemen kargo gudang, pengadaan perangkat lunak, perangkat lunak transportasi logistik dan keahlian dari penyedia layanan handal , operasi Anda dapat diubah dan disederhanakan menjadi efisiensi otomatis. Rantai pasokan biasanya bekerja sepanjang jalur linier, baik menyediakan dari baris produksi untuk tujuan, atau satu langkah dalam proses semua untuk memastikan Bisnis Anda berjalan seperti jarum jam. Supply Chain Software Teknologi dikenal sebagai SaaS (Software sebagai sebuah layanan) menyediakan solusi untuk koordinasi dan komunikasi antara titik-titik pengiriman penanganan memungkinkan pelacakan real-time dan siklus hidup produk halus. Dari mengimpor bahan baku untuk memberikan barang jadi kepada penerima yang tepat, manajemen rantai pasokan eksekusi meningkatkan kualitas layanan pelanggan dan keuntungan perusahaan.
1 Februari 2010 Crownhill Plymouth
Saat ini, ada banyak perusahaan manajemen rantai pasokan di seluruh dunia yang menyediakan layanan pengiriman fleksibel dan dapat diandalkan. Terserah pada Anda untuk menemukan penyedia layanan yang membawa nilai terbaik dan bisnis untuk solusi bisnis untuk kebutuhan transportasi Anda. Elemen penting dari manajemen rantai pasokan adalah perencanaan. Produsen membutuhkan perencanaan strategi untuk pengorganisasian sumber daya yang memenuhi permintaan pengguna untuk produk mereka. Manajer rantai pasokan harus menciptakan metrik untuk meningkatkan dan pemantauan produk dan aliran pengiriman dengan pengukuran untuk tingkat kualitas, produktivitas pekerja dan output produksi. Seiring dengan tolok ukur tambahan untuk kecepatan koordinasi pengiriman, vendor dan logistik.

Sebagai ketergantungan dari pemasok asing meningkat, kebutuhan untuk efisien, real-time Supply Chain meningkatkan solusi logistik. Visibilitas global dari rantai suplai yang kompleks bisa sangat sulit untuk mencapai dan mempertahankan. Ada banyak variabel yang dapat mengganggu rantai pasokan logistik. Barang jadi pelanggan yang paling tidak mampu waktu yang dibutuhkan untuk memantau dan mengelola setiap link dari rantai pasokan mereka. Persyaratan pabean terus berubah dan peraturan pengapalan menambahkan tantangan lebih. SaaS teknologi (software sebagai sebuah layanan) dapat digunakan untuk meningkatkan pasokan global rantai visibilitas Anda. SaaS teknologi memungkinkan semua perusahaan yang terlibat pribadi, vendor dan penyedia layanan di seluruh rantai pasokan global untuk berpartisipasi secara real-time tradisional menghindari keterlambatan dan kesalahan.
 
Jika perusahaan Anda adalah mencari untuk eksekusi rantai pasokan yang lebih baik, SaaS teknologi perangkat lunak akan memberikan solusi. SaaS Software Teknologi Supply Chain akan mengoptimalkan pasokan logistik rantai hadir Anda sementara meningkatkan visibilitas akhir-akhir secara real-time untuk menghindari gangguan dalam aliran komunikasi dan siklus hidup produk. Rantai pasokan logistik tergantung pada akhir-akhir visibilitas global. Dengan perangkat lunak rantai pasokan SaaS seperti yang disediakan oleh perusahaan seperti Freightgate, rantai pasokan datang dalam pandangan yang jelas kepada semua mitra yang terlibat dalam logistik rantai suplai anda. Anda akan tahu mana perintah dan ketika mereka akan mencapai tujuan informasi penting yang memungkinkan Anda untuk secara akurat mengatur dan memenuhi harapan konsumen Anda.

Visibilitas supply chain global dengan SaaS perangkat lunak, juga memungkinkan perusahaan untuk mengurangi inventaris sambil memenuhi permintaan, mengurangi limbah saham dan biaya. Produsen dapat dengan mudah menemukan jawaban yang tepat untuk merampingkan rantai suplai logistik mereka dengan solusi rantai pasokan SaaS visibilitas. Global yang akhir-akhir visibilitas dikatakan menjadi komponen penting dari efisien mengelola rantai pasokan logistik. Satu link lemah dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk memenuhi tenggat waktu yang diperlukan dan harapan pelanggan Anda.
Source: http://id.hicow.com/supply-chain/manajemen-rantai-suplai/software-sebagai-sebuah-layanan-373689.html

Supply Chain Optimazitation


Masalah Kita di Rantai Pasokan

Sumber: metrotvnews.com, 13 Juni 2011.

 

SAAT membuka World Economic Forum, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa Indonesia kini sedang menuju kekuatan ekonomi nomor 10 dunia dengan Produk Domestik Bruto mencapai 10 triliun dolar AS. Apabila kita mampu memberikan nilai tambah kepada sumber daya alam yang dimiliki, target tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil.

Persoalan yang kita hadapi, apakah kita tahu apa yang menjadi kekuatan kita itu? Apakah kita memiliki strategi untuk mengoptimalkan keunggulan yang kita miliki itu? Apakah kita tahu bagaimana caranya agar pemberian nilai tambah bisa kita lakukan sendiri?

Mantan Presiden BJ Habibie secara jelas mengungkapkan bagaimana globalisasi seringkali diterapkan secara keliru. Globalisasi menjadi penyerahan sumber daya alam kepada bangsa lain. Nilai tambah itu akhirnya diambil oleh bangsa lain, sehingga akhirnya melahirkan apa yang disebut sebagai VOC dengan baju baru.

Di sinilah inti persoalan yang kita hadapi sebagai bangsa. Kita tidak cukup cerdas untuk memanfaatkan melimpahnya sumber daya alam yang kita miliki. Industri yang kita bangun tidak mampu menopang dan memetik hasil yang optimal.

Orientasi kepada kepentingan jangka pendek membuat kita mengeksploitasi sumber daya alam yang kita miliki. Kita lebih suka mengekspor produk dalam bentuk komoditas daripada barang jadi. Perekonomian kita cenderung berperilaku seperti ekonomi zaman kolonial dulu.

Tidak adanya insentif untuk memberikan nilai tambah membuat kita lebih suka menjual dalam produk mentah. Apalagi banyak kendala yang harus dihadapi para pengusaha untuk mengembangkan bisnisnya, membangun industrinya.

Salah satu faktor yang paling mengganggu adalah logistik. Buruknya infrastruktur membuat rantai pasokan (supply chain) terganggu. Akibatnya, biaya yang harus dibayar pengusaha menjadi lebih mahal dan itu mempengaruhi efisiensi.

Contoh paling nyata dari terganggunya rantai pasokan adalah apa yang terjadi di Pelabuhan Merak. Sejak berbulan-bulan penyeberangan dari Merak ke Bakahueni terganggu, namun tidak pernah bisa ditemukan penyelesaian yang tuntas. Hanya beberapa minggu berjalan baik, kemudian segera tersendat kembali.
Padahal jalur itu sangat krusial menghubungkan dua pusat ekonomi Indonesia yaitu Jawa dan Sumatera. Kita bisa bayangkan bagaimana terganggunya pasokan untuk industri dan juga kebutuhan masyarakat, akibat barang yang tertahan di pelabuhan.

Dalam diskusi yang dilakukan Kementerian Perindustrian akhir pekan lalu, pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Muhammad Chatib Basri mengungkapkan bagaimana mengganggu faktor rantai pasokan terhadap perekonomian kita. Deindustrialisasi yang kita hadapi terutama disebabkan oleh buruknya faktor rantai pasokan.

Apabila kita ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dan memacu perkembangan industri di dalam negeri, maka yang harus kita lakukan memperbaiki rantai pasokan ini. Kalau pun kita sulit untuk membangun infrastruktur yang baru, cukup untuk membuat infrastruktur yang ada bisa berfungsi lebih optimal.
Sekarang ini, kita selalu mengeluhkan sulitnya untuk membangun infrastruktur yang baru seperti jalan dan pelabuhan karena faktor pembebasan lahan. Anehnya, infrastruktur yang ada dibiarkan dalam kondisi rusak dan akibatnya jalur transportasi menjadi terganggu.

Kalau saja infrastruktur yang ada bisa dijaga kualitasnya, maka rantai pasokan tidak terlalu terganggu. Walau kecepatannya harus tersendat karena kepadatan, namun perjalanan akan bisa lebih mulus dan ini akan membantu distribusi barang.

Ambisi kita untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor 10 di dunia akan lebih cepat tercapai apabila kita bisa memperbaiki faktor rantai pasokan. Bahkan pertumbuhan ekonomi tidak hanya akan semakin menggemukkan kelompok atas saja, tetapi akan mampu dinikmati oleh lebih banyak anggota masyarakat.
Hukum besi ekonomi mengatakan bahwa perdagangan akan mengikuti lancarnya jalan. Industri akan mengikuti perkembangan perdagangan. Sementara perbankan akan mengikuti pertumbuhan sektor industri.
Semua persoalan yang mengganjal pertumbuhan ekonomi kita akan terselesaikan oleh perbaikan di sektor rantai pasokan. Jadi kita sungguh merasa heran apabila di saat Presiden mencanangkan negara kita menuju ke kekuatan ekonomi nomor 10 dunia, urusan tersendatnya Pelabuhan Merak saja tidak kunjung bisa kita tuntaskan.



Sabtu, 17 Desember 2011

Melihat Bisnis Logistik dan SCM di Indonesia

Bisnis Logistik dan Supply Chain Management di Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang sangat berat dari para operator (provider/pemain) bisnis Internasional. Memang bisnis Logistic Supply di bidang ini sangat menggiurkan dan pangsa pasar yang ada di Indonesia masih besarnya
.
Dari besarnya peluang bisnis tersebut, baru 25% tergarap oleh para Courrier Service/pemain bisnis logistik Dalam Negeri (termasuk juga PT Pos Indonesia). Hal ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh United States Postal Service (USPS) bahwa nilai transaksi industri jasa perposan ekspres nasional tahun 2005 mencapai US$ 193.143 juta, 70% di antaranya dikuasai oleh jasa pengiriman asing, sedangkan 30% sisanya diperebutkan oleh jasa pengiriman domestik Logistic Supply (Bahagia, Investor Daily Online, 13 Januari 2006). Sedangkan berdasarkan hasil riset SWA menyatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir rata-rata pertumbuhan ekspres di Indonesia sebesar 15%-20% dengan total besarannya adalah Rp.7,5 Trilyun.

Terlebih lagi di era globalisasi ini, tahun 2013 nanti persaingan antar pelaku bisnis kurir dan logistik akan lebih gencar lagi, mengingat para pelaku bisnis dari Luar Negeri akan ikut menikmati lezatnya kue bisnis logistic supply di Indonesia, yang saat ini pun sebenarnya sudah mulai terasa.

Melihat itu, para operator/pemain di Indonesia seyogyanya mulai saat ini tidak dapat lagi berpangku tangan (karena keran regulasi bidang bisnis kurir, logistic supply dan SCM sudah terbuka). Menghadapi hal itu, para operator/pemain Dalam Negeri harus sudah bersiap diri, melakukan pembenahan kualitas layanan, mempersiapkan SDM yang handal, dan perlu memperkuat persatuan dan kesamaan gerak antar para pelaku bisnis itu sendiri yang ada di Indonesia (dengan kata lain “merapatkan barisan”), serta perlu terpadunya program yang dirancang oleh Asosiasi Perusahaan Jasa Titipan Indonesia (ASPRINDO) sebagai wadah para Anggotanya dalam mengembangkan bisnis kurir, logistik, dan SCM (logistic supply).

Hal ini terungkap dalam seminar sehari yang diselenggarakan oleh ASPRINDO Wilayah Jawa Barat pada hari Sabtu, 25 Juli 2008 di Gedung Pos Jln. Banda 30 Bandung.
Seminar dengan tema “Kiat Sukses Bisnis dalam Melayani Pelanggan di Era Globalisasi” tersebut tergolong sukses dan mampu menarik perhatian sekitar 250 orang peserta dari berbagai pelaku bisnis logistic supply kurir dan logistik se-Jawa Barat. Dengan antusiasnya para peserta mengikuti materi seminar dan banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang muncul, yang cukup menguras pemikiran para pemateri/fasilitator seminar.
Dari seminar sehari tersebut terbesit niatan para pemangku jabatan ASPRINDO Jawa Barat untuk lebih meningkatkan lagi aktifitas kordinasi antar Anggota melalui program-program terpadu yang bermanfaat langsung bagi para pelaku bisnis kurir dan logistik di Jawa Barat khususnya dan Dalam Negeri umumnya (logistic supply).
Salah satu bentuk program tersebut adalah kerjasama pemanfaatan Politeknik Pos Indonesia (selaku institusi pendidikan yang memiliki Jurusan Logistik Bisnis satu-satunya di Indonesia).

ken-sukses.blogspot.com

Kendala-kendala yang terjadi dalam proses tranportasi di dalam SCM

  
TransportDi dalam suatu perusahaan, Suply Chain Management (SCM) sangat berperan penting bahkan menjadi kunci sukses dalam memberikan pelayanan kepada konsumen dan memenangkan persaingan. Di dalam SCM terdapat suatu tahapan yang sangat perlu untuk diperhatikan yaitu Transportasi

Transportasi sangatlah berperan penting dalam suatu perusahaan, akan tetapi sering kali dalam proses distribusi barang atau jasa sangat mungkin terjadi yang namanya kendala-kendala di luar dugaan yang bisa menghambat suatu pekerjaan bahkan dapat merugikan perusahaan baik secara materil maupun imateriil adapun kendala-kendala tersebut sering kali membuat para pengusaha mengeluh kesah.

Adapun beberapa kendala yang dikeluhkan para pengusaha adalah: kemacetan, pungutan liar, insfrastruktur yang sangat memprihatinkan seperti jalan rusak.kondisi pelabuhan yang sangat semrawut, mahalnya ongkos transportasi seperti mahalnya bahan bakar dan ongkos supir .kendala-kendala tersebut merupakan suatu hal yang lazim terjadi di Negara ini akan tetapi bila hal tersebut terus dibiarkan maka akan menjadi suatu preseden yang sangat buruk bagi Negara kita dan yang menjadi korban bukan hanya pengusaha akan tetapi masyarakat pun menjadi korban karena harus membayar harga yang lebih mahal barang yang dibutuhkan akibat dari keterlambatan barang.

Salah satu yang sering dikeluhkan oleh para pengusah adalah kemacetan hal ini merupakan suatu hal yang sangat tapi berdampak sangat luas seperti pemakaian bahan bakar manjadi boros serta produk-produk yang dikirim banyak yang rusak sehinnga ketika barang sampai ke tangan konsumen banyak dikembalikan kembali itu menyebabkan pengusaha merugi

Hal seperti itu perlu mendapat perhatian khusus dari para pengusaha supaya kedepan hal-hal yang seperti itu bisa diminimalisir seperti dengan cara memperbaiki sistem kerja dan memberikan pelatihan khusus kepada para pegawai supaya mereka mempunyai rasa tanggung jawab akan pekerjaannya di harapkan dengan cara-cara tersebut bisa meningkatkan kinerja setiap pegawai dan hal-hal yang tidak di inginkan pun bisa dihindarkan.

1.Berikut ini beberapa artikel tentang usaha-usaha para pengusaha memerangi Pungutan Liar
Buruh tidak harus berseteru dengan pengusaha dalam menuntut kenaikan upah minimum karena pengusaha juga tertekan oleh kebijakan pemerintah yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi. Semestinya buruh dan pengusaha bersatu melawan praktik pungli yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi.
Ketua Umum Serikat Pekerja Rakyat Indonesia Ruslan Effendy  mengatakan, berbagai kebijakan di daerah, yang termuat dalam peraturan daerah, memperparah ekonomi biaya tinggi.
Banyak peraturan yang sangat merugikan pengusaha dan pada gilirannya berpengaruh terhadap kemampuan pengusaha meningkatkan kesejahteraan buruh.
Dia menyebut contoh, pedagang daging dan sayuran harus mengurus izin tersendiri. Bahkan untuk pembuatan eskalator juga memerlukan izin yang biayanya disesuaikan dengan jumlah karyawan yang menggunakannya.
“Itu baru sebagian contoh kecil dari ekonomi biaya tinggi akibat otonomi daerah. Belum lagi pungutan-pungutan liarnya, benar-benar high cost economy,” katanya.

Peraturan Daerah
Ruslan mendesak Menteri Dalam Negeri untuk segera meninjau berbagai peraturan daerah yang berpotensi menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Perda-perda itu diberlakukan atas pengesahan Departemen Dalam Negeri.
Ketua Umum Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jacob Nuwa Wea dan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi berulang kali meminta pemerintah serius menghapuskan ekonomi biaya tinggi akibat berbagai pungutan tak resmi. “Kalau pos biaya aneh-aneh itu dihitung besarnya bisa mencapai 30 persen dari biaya produksi,” kata Wanandi.
Jacob mengemukakan, bila alokasi dana pengusaha untuk biaya aneh-aneh itu dapat dipangkas kemudian dialokasikan untuk buruh.
Dengan demikian esejahteraan buruh akan jauh meningkat. Biaya aneh-aneh yang 30 persen itu jauh melebihi proporsi labour cost di Indonesia.
Mengenai besaran kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2006, Wanandi mengemukakan, pihaknya mengimbau pengurus Apindo daerah untuk mengusulkannya berdasarkan rata-rata laju inflasi, yakni sekitar 15 persen. Alasannya, kenaikan UMP harus disesuaikan dengan kemampuan perusahaan di suatu daerah dan juga harus dibedakan antara perusahaan padat modal dan padat karya.
Dikemukakan, perusahaan memahami kesulitan pekerja memenuhi kebutuhan hidupnya pascakenaikan harga BBM. Tapi, pekerja juga diimbau memahami kesulitan pengusaha.
Sebagian besar perusahaan sekarang tidak sehat karena menurunnya penjualan yang berkisar 10-30 persen akibat menurunnya daya beli masyarakat. Apindo menilai kenaikan UMP 2006 sebesar 15 persen adalah sesuai dengan laju inflasi. Pengusaha juga diimbau menaikkan uang transpor dan uang makan pekerja.
Jacob mengatakan, tidak sependapat dengan usulan Apindo. “Kenaikan upah minimum provinsi mengacu pada laju inflasi maka kenaikan UMP itu sama saja dengan menipu buruh. Itu sama saja dengan tidak ada kenaikan upah,” katanya.
Alasannya, penetapan UMP sekarang tidak lagi berdasarkan kebutuhan hidup minimum (KHM), melainkan berdasarkan kebutuhan hidup layak (KHL). Dicontohkan, penetapan UMP di DKI yang hanya Rp 819.100 per bulan, sementara jika mengacu pada KHL, selayaknya menjadi sekitar Rp1,2 juta.

Rendah
Secara terpisah, Humas Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Andy William Sinaga mengemukakan, penetapan upah minimum di Indonesia sangat jauh dari pemenuhan kebutuhan hidup dasar buruh. Secara umum tingkat upah di Indonesia khususnya di sektor industri masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina.
Hasil survei di sentra-sentra industri di Jakarta, Tangerang, Karawang, Surabaya, Bandung, Sumatera Utara, Batam, dan Riau, menunjukkan hampir 70 persen dari sampel menyatakan upah bulanan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar keluarga. Hampir 50 persen dari upah itu untuk biaya transportasi. Selebihnya habis untuk biaya kebutuhan sehari-hari dan uang sekolah anak-anak.
Hasil survei itu juga menunjukkan, tingkat pengeluaran buruh berkisar antara Rp 900.000 hingga Rp 1,8 juta. Kalau di Jakarta upah minimum ditetapkan Rp 819.000 berarti buruh masih menombok setiap bulan, katanya.

Sementara itu, unjuk rasa terus-menerus dari sekitar 200 buruh yang tergabung dalam Aliansi Peduli Upah (APU) Cimahi 2006 di Gedung Sate, Bandung,, membuahkan hasil. Gubernur Jawa Barat melalui Wakilnya Nu’man Abdul Hakim mengirimkan surat kepada Wali Kota Cimahi Itoch Tochija untuk meninjau kembali besaran rekomendasi upah minimum yang akan disahkan oleh Gubernur Jabar.
Dalam surat bernomor 561/4305/Bangsos yang bersifat penting tersebut, Gubernur Jabar menyatakan telah menerima aspirasi dari APU Cimahi dan meminta kepada Itoch untuk mendalami dan mengkaji rekomendasi upah minimum
untuk itu perlunya peran pemerintah dan aparat keamanan dalam menylesaikan masakah pungutan liar tersebut..
sekian

Source : http://onlinebuku.com/2008/12/03/kendala-kendala-yang-terjadi-dalam-proses-tranportasi-di-dalam-scm/

Strategi Bulog untuk Menekan Harga Gula di Pasaran


Krisis Ekonomi Dunia yang berkepanjangan bukan hanya berdampak pada negara maju seperti Amerika dan Eropa namun juga terhadap negara-negara berkembang salah satunya adalah Indonesia. Semua harga harga produk baik produk local maupun yang impor terkena imbasnya krisis ekonomi ini, sehingga harga yang melambung tinggi ini sulit untuk dijangkau oleh pembeli. Seperti halnya produk gula dalam negeri yang sebelumnya terjadi kenaikan harga karena Krisis ekonomi ini. Terjadinya kenaikan harga ini dikarenakan persediaan bahan baku gula yang menipis. Petani Tebu lokal mengalami masa sulit panen dalam beberapa bulan karena persediaan pupuk yang terbatas dan juga harganya pupuk yang melambung tinggi. Persediaan bahan baku gula yang terbatas ini secara otomatis mengakibatkan harga gula pun naik dan persedian gula pun terbatas, di lain pihak permintaan pembeli akan gula terus meningkat.

Menaggapi hal ini, maka langkah yang diambil pemerintah sebagai respon untuk menurunkan harga gula di pasaran sangatlah tepat. Kerja sama yang dilakukan oleh Perum BULOG dan beberapa PT Perkebunan Nusantara dalam mengembangkan jaringan distribusi gula pasir alternatif dan dengan kerja sama ini memungkingkan Perum BULOG dapat menjual gula dengan harga yang relatife lebih murah dibandingkan dengan distributor lain. Masuknya Perum BULOG dalam mata rantai distribusi gula ini pula akan sangat menguntungkan petani tebu, karena dalam kerja sama ini BULOG membeli gula pasir PTPN (PT. Perkebunan Nusantara) dan RNI (Rajawali Nusantara Indonesia) dengan harga Rp. 5.200 per Kg dan menjualnya dengan harga diatas Rp 5.300 per Kg dan dengan harga jual yang sedikit Rp 5.300 per Kg inik akan menyeret turun harga gula di tingkat konsumen serta dapat membuat produk gula pasir lokal lebih kompetitif.

Artikel ini diangkat dari harian umum KOMPAS rubrik Bisnis dan Keuangan pada Kamis 27 Nopember 2008
Source : http://onlinebuku.com/2009/03/11/strategi-bulog-untuk-menekan-harga-gula-di-pasaran/