Sabtu, 17 Desember 2011

Review Jurnal


Gefen, David. 2002. Customer Loyalty in E-Commerce.
Journal of the Association for Information Systems Volume 3, 2002 p. 27-51.

Dalam jurnalnya yang berjudul “Customer Loyalty in E-Commerce”, Gefen melakukan suatu penelitian seberapa besar tingkat kepercayaan para pelanggan pada online vendor atas pelayanan yang diberikan. Dengan demikian, yang menjadi alat ukurnya adalah kualitas pelayanan, biaya, serta faktor risiko. Ketiga faktor ini dianggap peneliti sebagai faktor utama dalam mempengaruhi tingkat kepercayaan para pelanggan pada online vendor. Adapun latar belakang yang mendasari peneliti melakukan penelitian ini adalah peneliti ingin membuktikan tingkat persamaan loyalitas antara pelanggan pada pasar non internet dengan pelanggan pada pasar internet. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey pada 160 orang dengan subyek penelitian adalah masyarakat tingkat S1 dan S2 yang sering melakukan pembelanjaan secara online, dengan objek penelitian pada Amazon.com. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dasarnya tingkat loyalitas dan kepercayaan pelanggan pada online vendor dan pelanggan pada pasar non internet adalah sama yaitu tergantung pada kualitas pelayanan dan kepercayaan yang diberikan kepadapelanggan.

Kemudian, untuk jurnal kedua yang dibuat oleh Setiabudi dan Setiawan, yaitu mengenai penelitian tentang penggunaan ASP atau Actice Server Page. Penelitian tersebut mencoba untuk menerapkan penggunaan ASP sebagai prorotipe pemesanan bahan pustaka melalui web. Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan sistem usaha jasa pemesanan bahan pustaka pada perpustakaan yang masih belum memanfaatkan jalur internet atau dengan kata lain masih menggunakan cara konvensional. Hasil penelitian adalah prototipe yang merupakan kombinasi teknologi dan software yang sudah ada yaitu ASP itu sendiri dikombinasikan pada aplikasi database yaitu ActiveX Data Objects (ADO). Prototype ini unggul dalam metode scripting dan pengolahan database. Selain itu, prototype ini juga mampu memfasilitasi pengeditan dan pencarian data, serta dilengkapi dengan kemampuan untuk melihat informasi pesanan secara online. Prototipe ini juga dapat melakukan proses download untuk mencari dan memesan data. Namun, yang perlu diperhatikan adalah cara pembayarannya, sebab prototype ini menggunakan sistem pembayaran dengan kartu kredit. Hal ini menjadi keemahan karena tidak semua para user atau pelanggan memiliki kartu kredit. Untuk itu, prototype ini dimodifikasi sehingga transaksi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan kartu kredit dan transfer antar rekening secara online. Prototype ini juga dilengkapi peranti pelindung data, yaitu mencegah hilangnya data user selama user masih dalam sesi atau sedanglogin.

Sedangkan pada jurnal ketiga, merupakan suatu studi literatur yang mencoba untuk menelusuri perkembangan penerapan teknologi ataupun software pengolah data yang dapat menyajikan informasi. Teknologi itu sekarang dikenal dengan MARC (Machine Readable Catalog), dan kemudian berkembang ke arah XML. Objek penelitiannya adalah perpustakaan, yang pada umumnya dalam mengolah data tergantung pada katalog-katalog yang sudah mereka siapkan dan mereka buat. Katalog yang dipakai oleh perpustakaan inilah yang disebut dengan MARC. Dengan menggunakan MARC ini perpustakaan mengonversi arsip-arsip ke dalam format elektronik, sehingga memudahkan dalam menyimpan dan memperoleh data itu kembali saat diperlukan. Namun, MARC ini memiliki kelemahan dalam menyajikan post-publishing dan pre-publishing structuring, karena dilakukan pengkodean dengan HTML. HTML itu sendiri memiliki kelemahan dalam menyusun data yang sudah dikodekan. Oleh karena itu, dipakailah XML yang memiliki peran untuk dapat membangun dan membangkitkan sistem dengan cepat, yaitu, document-centric dan data-centric. Lebih dari itu, XML memiliki metadata syntax-based, yaitu suatu peranti yang dapat membuka aplikasi sehingga mampu memberi peluang yang cukup luas dalam digitalisasi perusahaan, seperti e- publishing, e-business dan e-commerce.

DAFTAR PUSTAKA
Gefen, David. 2002. Customer Loyalty in E-Commerce. Journal of the Association for Information Systems Volume 3, 2002 p. 27-51.
Setiabudi, Djoni Haryadi. Ishak Setiawan. 2002. Prototipe Pemesanan Bahan Pustaka Melalui Web Menggunakan Active Server Page (Asp). Jurnal Informatika Vol. 3, no. 1, mei 2002: 53 – 60.
Siswanto. Tanpa Tahun. Penyajian Dan Organisasi Informasi Di Dalam Ruang Web: Dari Marc Ke Xml. Jakarta:FTI Universitas Budi Luhur.

Source : http://hendrasaja.wordpress.com/2009/05/25/review-jurnal/

Review Jurnal

STUDI  KOORDINASI  PRODUKSI,  PENJUALAN,  DAN SISTEM PEMBAYARAN  ANTARA  PRODUSEN  DENGANBEBERAPA DISTRIBUTOR

(Studi Kasus di Industri Keramik)

Felecia

Alumnus Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri - Universitas Kristen Petra

I Nyoman Pujawan

Dosen Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri - Institut Teknologi 10 Nopember

I Gede Agus Widyadana

Dosen Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri - Universitas Kristen Petra

 

Jurnal ini membahas tentang koordinasi, yang merupakan hal yang penting dalam suatu industri, oleh karena itu dalam penelitian ini penulis mencoba melihat permasalahan yang muncul dalam hal koordinasi pada PT ’X’ dan kemudian memberikan alternative sistem koordinasi. Permasalahan yang teridentifikasi antara lain tingginya tingkat  inventory variabilitas. 

Penulis mengangkat kasus koordinasi untuk bagian produksi, penjualan, dan sistem pembayaran pada supply chain produk ubin keramik. Ketiga bagian tersebut merupakan penghubung yang penting diantara setiap tahapan dalam  supply chain, oleh sebab itu koordinasi menjadi suatu hal yang harus ada guna menjamin kelancaran aliran material,  dana, dan informasi. Pada akhirnya melalui koordinasi diantara setiap tahapan supply chain diharapkan pelayanan yang diberikan kepada customer akan meningkat, begitu juga daya saing perusahaan dalam dunia usaha. Selama ini koordinasi yang ada pada supply chain produk ubin keramik yang diteliti masih kurang berjalan dengan baik. Kurangnnya koordinasi diantara setiap tahapan tampak pada tingginya tingkat  inventory, variabilitas permintaan yang  tinggi  dan panjangnya cash to cash cycle time khususnya antara perusahaan dan distributor. 

Menurut penulis, kondisi dan permasalahan yang nyata pada perusahaan ubin keramik ini dipandang layak untuk diangkat sebagai topik penelitian khususnya untuk peningkatan koordinasi pada bagian produksi, penjualan, dan sistem pembayaran.

Analisa kondisi bagian produksi dan penjualan
Penulis mendapatkan permasalahan di perusahaan dengan menganalisa terhadap kondisi perusahaan, dan hasilnya menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi beberapa permasalahan:
  • ·          Persentase tingkat inventory terhadap output  perusahaan yang tinggi.
  • ·          Terdapat pola peningkatan inventory.
  • ·          Terdapat pola penurunan penjualan.
  • ·          Fluktuasi output  produksi yang tinggi.
  • ·          Lonjakan pengiriman pada setiap akhir periode.
Permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan disebabkan oleh factor internal maupun oleh faktor eksternal perusahaan. Berikut ini adalah beberapa factor penyebab permasalahan tersebut:
·     Kecenderungan penggunaan kapasitas produksi pada tingkat yang tetap tetapi penjualan cenderung mengalami penurunan. Perusahaan perlu mengoptimalkan penggunaan kapasitas yang tersedia dengan tujuan effisiensi biaya. Kondisi pasar yang menurun mengakibatkan sebagian output produksi tidak dapat disalurkan.
·           
      Fluktuasi harga jual.

Kenaikan harga jual menimbulkan terjadinya lonjakan permintaan sebagai akibat forward buying dan penuruan penjualan pada periode berikutnya.


·          Jadwal produksi yang sering mengalami perubahan.
Perubahan jadwal produksi mengakibatkan  output  produksi berbeda dengan rencana awal produksi yang dibuat berdasarkan  order  distributor. Pemenuhan  order  kepada distributor juga  akan berbeda dengan  order  yang dilakukan sebelumnya, dan hal ini berpotensi menimbulkan peningkatan inventory.


·          Sistem pemberian discount kepada distributor.
Perusahaan menerapkan volume based quantity discount  yang mendorong terjadinya ”Hockey Stick Phennomenon”  yaitu lonjakan pengiriman pada akhir periode yang ditetapkan.  Kondisi ini menyebabkan fluktuasi pada pemanfaatan kapasitas pengiriman yang dimiliki.


·          Kondisi perekonomian yang sedang mengalami penurunan.
Fluktuasi nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika berdampak kepada kenaikkan harga berbagai produk kebutuhan pokok dan penurunan daya beli masyarakat. Penjualan ubin keramik yang bukan merupakan kebutuhan pokok sangat mengalami penurunan, karena banyak konsumen yang menunda pembeliannya.


Hasil analisa terhadap kondisi distributor menunjukkan bahwa perusahaan
menghadapi beberapa permasalahan:
·          Fluktusi tingkat inventory terhadap penerimaan dan penjualan yang tinggi.
·          Pola pemesanan yang berbeda dengan pola aktual penerimaan dari perusahaan.
·          Variabilitas pemesanan yang lebih tinggi dari variabilitas penjualan (bullwhip effect).
·          Rata-rata penerimaan lebih tinggi dari pemesanan.
·          Variabilitas tingkat inventory, penerimaan  dan penjualan prooduk-A yang lebih tinggi dari produk-B.


Dari permasalahan yang terjadi di perusahaan adanya faktor yang menjadi penyebab permasalahan yang dihadapi pihak distributor adalah:
·          Forward buying ketika terjadi fluktuasi harga beli dari perusahaan.
Pola  inventory produk-A dan produk-B menunjukkan lonjakan yang tinggi sekitar bulan Juni dan Juli, yaitu ketika ada informasi  akan terjadi kenaikan harga jual produk. Reaksi dari distributor adalah menyimpan  inventory produk  ketika harga belum mengalami kenaikan.


·          Lead time order yang panjang.
Mekanisme pemesanan dengan  lead time order panjang, yaitu sekitar  lima belas hari, membuat distributor harus menempatkan  order ke perusahaan sebelum ada
permintaan aktual dari  retailer. Kondisi ini menyebabkan pola  order berbeda dengan pola penerimaan. Pihak perusahaan  akan mengalami kesulitan untuk menjadwalkan produksi dan menghadapi permasalahan  inventory, karena rencana produksi dibuat berdasarkan order distributor.


·          Peramalan order yang dilakukan distributor hanya berdasarkan permintaan retailer.
Peramalan yang tidak dibuat dari data permintaan aktual konsumen akhir,  akan  menimbulkan terjadinya peningkatan variabilitas ketika bergerak ke arah supplier,  atau yang dikenal dengan istilah “Bullwhip Effect”.

·        Mekanisme pemenuhan order dari perusahaan.
Kebijakan  perusahaan untuk menerapkan proporsi terhadap pemenuhan  order
distributor, meningkatkan variabilitas permintaan dari distributor. Distributor didorong untuk melakukan rasionalisasi terhadap  order yang ditempatkan yaitu memperbesar permintaan untuk mencegah kekurangan pengiriman.


·        Sistem kepemilikan produk antara perusahaan dan distributor.
Distributor menanggung risiko produk sejak keluar dari gudang perusahaan dan harus
membayar 45 hari kemudian, oleh sebab itu distributor akan berhati-hati memilih
produk yang diambil khususnya dari  fast moving product agar dapat segera terjual.

·            Metode pengukuran variabilitas yang digunakan.

Pengukuran variabilitas secara relatif terhadap nilai rata-rata data dengan menggunakan  cv  (coefficient variation) menghasilkan kecenderungan tingkat variabilitas yang tinggi pada data dengan nilai rata-rata rendah.

Analisa sistem pembayaran

Penulis memberikan perhatian khusus dalam sistem pembayaran mendapatkan karena sistem pembayaran yang digunakan memberikan pengaruh secara langsung terhadap variabilitas dan tingkat  inventory, variabilitas permintaan, dan variabilitas penjualan antara perusahaan dan distributor.  Sistem pembayaran yang ada membuat distributor menanggung semua risiko apabila produk tidak terjual. Hal ini membuat distributor hanya melakukan pemesanan untuk produk yang dapat segera terjual agar risiko yang ditanggung rendah, selain itu terdapat kecenderungan tingkat inventory pada distributor menjadi rendah tetapi berfluktuasi, sedangkan tingkat  inventory perusahaan menjadi sangat tinggi. Kebijakan sistem pembayaran yang saat ini diterapkan perusahaan kepada distributornya adalah setiap produk yang keluar dari gudang perusahaan untuk dikirimkan kepada distributor dianggap telah dibeli oleh distributor dan harus dibayar dalam 45 hari. Perhitungan jumlah yang dikirimkan kepada distributor tidak dilakukan secara harian tetapi dari hasil akumulasi faktur pengiriman per minggu.  Distributor harus melakukan pembayaran 45 hari dari setiap akhir minggu.
Kebijakan ini menyebabkan pihak distributor harus berhati-hati dalam melakukan pembelian, karena mereka tidak mau menanggung risiko barang tersebut tidak terjual dalam 45 hari.  Permintaan dari pihak distributor jadi bersifat fluktuatif (baik dari segi jumlah maupun tipe) karena harus menyesuaikan dengan kondisi pasar. Pihak perusahaan sendiri  akan dirugikan karena harus berproduksi secara kontinu tetapi penjualan tidak tetap. Dampak negatif bagi perusahaan adalah semakin meningkatnya inventory. 


Berdasarkan data yang penulis hitung didapatkan alternatif yang tidak jauh beda dari sistem awalnya tetapi dapat memberikan NPV yang lebih baik dari sistem awal,  akan lebih sesuai untuk diterapkan karena dari segi kemudahan pelaksanaan dan biaya investasi untukmenerapkan sistem baru tidak terlalu tinggi.
Penelitian yang dilakukan terhadap sistem pembayaran, menghasilkan beberapa
alternatif sistem pembayaran, yaitu:
a.       Pembayaran dilakukan apabila barang terjual.
b.      Pembayaran 30 hari untuk akumulasi pembelian selama 1 minggu.
c.       Pembayaran 5 hari untuk akumulasi pembelian selama 10 hari.
d.      Pembayaran 14 hari untuk 50% nilai akumulasi pembelian selama 1 minggu, dan
pembayaran 21 hari untuk 50% sisanya.
e.      Pembayaran 14 hari untuk 50% nilai akumulasi pembelian selama 1 minggu, dan
pembayaran 21+5 hari untuk 50% sisanya.
f.        Pembayaran 14 hari untuk 50% nilai akumulasi pembelian selama 1 minggu, dan
pembayaran 21+10 hari untuk 50% sisanya.


Setelah itu dilakukan evaluasi terhadap setiap alternatif sistem pembayaran dengan membandingkan NPV ( Net Present Value) diantara sistem pembayaran alternatif dan kondisi awal sistem pembayaran terhadap aliran produk yang terjadi pada distributor.
Dari Alternatif sistem pembayaran 14 hari untuk 50% nilai akumulasi pembelian selama 1 minggu, dan pembayaran (21 + 10) hari untuk 50% sisanya merupakan salah satu contohnya. Alternatif ini dapat digunakan sebagai langkah awal dalam memperbaiki sistem pembayaran dan dapat segera diterapkan, sementara itu dapat dilakukan persiapan penerapan sistem pembayaran apabila produk terjual, sebagai tujuan yang akan dicapai dalam jangka panjang. Sistem pembayaran apabila produk terjual menjadi tujuan akhir karena sistem pembayaran ini memungkin terjadinya  cycle time produk pada  supply chain yang sangat singkat, begitu juga dengan aliran uang yang terjadi. Aliran perputaran produk dan uang yang cepat pada jangka panjang  akan dapat menekan tingkat  inventory di dalam  supply chain.

Review Junal



“Metode SCM untuk menganalisis Bullwhip Effect guna meningkatkan Efektifitas Sistem Distribusi Produk”

 oleh Indri Parwati, Prima Andrianto


Penullis mengangkat tema ini karena Bulwhip Effect merupakan permasalahan yang sering dijumpai dalam distribusi produk. Bullwhip Effect sendiri merupakan simpangan jauh antara persediaan yang ada dengan permintaan. Di dalam rantai pasok sering terjadinya pembesaran variabilitas permintaan yang dikenal dengan istilah efek cambuk sapi (bullwhip effect) (Lee et al., 1998). Hal ini merupakan penyimpangan informasi ketika informasi yang ada berjalan dari satu mata rantai ke mata rantai lainnya dalam suatu rntai pasok. Ketidakefisienan dari efek ini antara lain adalah kelebihan persedian, penurunan tingkat pelayananterhadap pelanggan, transportasi yang tidak efektif, dan keterlambatan produksi ( Carlsson dan Fuller, 2000). 

 Penulis menganalisis masalah ini di PT Mondrian, perusahaan ini berkecimpung dalam prodksi pakaian jadi. Di perusahaan tersebut terdapat maslah-maslalah mengenai distribusi produk, persedian serta informasi. Dalam hal ini, permasalahan tersebut sangatlah saling mempengaruhi. Masalah  Bullwhip Effect  yaitu adanya simpangan yang jauh antara persediaan yang ada dengan permintaan sering kali terjadi dalam suatu perusahaan, Hal ini dikarenakan kesalahan dari interpretasi data permintaan di tiap – tiap rantai distribusi dan sistem informasi di dalam pendistribusiannya tersebut bersifat dua arah dimana  retailer  menyampaikan informasi permintaan dari konsumen ke distributor dan dari distributor lalu menyampaikan informasi ke manufaktur dan sebaliknya. Hal itu juga yang dialami oleh PT. Mondrian yang memproduksi produk pakaian jadi. Salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk mengatasi kondisi diatas adalah menerapkan sistem pengendalian  Inventory Continous Review  atau biasa disebut dengan sistem Q yang merupakan sistem pengendalian yang membahas tentang penekanan biaya, mengurangi tingkat persediaan serta menetapkan dan menjamin tersedianya produk dalam kualitas, kuantitas dan waktu yang tepat.

Dalam pendistribusian hasil produknya PT. Mondrian langsung mengirimkan produk ke retailer-retailer yang menjadi mitra bisnis dari perusahaan. Retailer-retailer tersebut yang menyalurkannya ke konsumen. Dalam penelitian ini retailer-retailer yang diteliti adalah retailer-retailer yang berada di kota Yogyakarta dan Semarang yang meliputi 12 retailer yaitu Retailer Ada Siliwangi Semarang, Retailer Ada Seibudi Semarang, Retailer Ada Majapahit Semarang, Retailer Ada Fatmawati Semarang, Retailer Robinson Semarang, Retailer Sri Ratu Peterongan Semarang, Retailer Sri Ratu Pemuda Semarang, Retailer Ramayan Yogyakarta, Retailer Robinson Yogyakarta, Retailer Gardena Yogyakarta, Retailer Ramai Mall Yogyakarta, Retailer Mirota Kampus Yogyakarta. 

Hasil perhitungan nilai variabilitas menunjukan terjadinya  bullwhip effect hampir disemua produk yang dikrimkan ke retailer-retailer. Kecuali pada produk sekido untuk retailer Sri Ratu Peterongan Semarang , produk sekido untuk retailer Sri Ratu Pemuda Semarang dan produk begaya untuk  retailer  Mirota Kampus Yogyakarta. Karena masing-masing  Retailer  tersebut memiliki nilai variansi permintaan sebesar 1,28; 1,65; 1,45; yang berarti lebih besar dari nilai perbandingan antara fungsi periode dan  lead time  sebesar 1,18. Data Inventory yang didapatkan meliputi biaya simpan, biaya pesan dan biaya kekurangan persediaan.  Dari hasil pengolahan data  inventory  dengan metode sistem Q, diperoleh iterasi terbaik pada iterasi 1 untuk produk Dadung dengan total biaya persediaan Rp. 39.638.737,53. Sedangkan untuk produk Begaya iterasi terbaik pada iterasi 3 dengan total biaya persediaan Rp. 27.924.118,81 dan untuk produk Sekido  iterasi  terbaik pada  iterasi  2 dengan total biaya persediaan sebesar Rp. 52.328.084,57. 

supply chain management


bullwhip effect


sourcing decision in supply chain

The role of sourcing in a supply chain 

Procurement adalah proses dimana perusahaan memperoleh komponen bahan baku, produk, pelayanan atau sumber daya lainnya dari supplier untuk melaksanankan operasi mereka. Sourcing adalah keseluruhan sekumpulan proses bisnis yang diperlukan untuk membeli barang dan jasa. Untuk fungsi rantai pasokan, keputusan yang paling penting adalah apakah outsource atau in-house. Sebuah perusahaan outsource jika perusahaan menyewa perusahaan luar untuk melaksanakan operasi dalam suatu perusahaan. Aktifitas outsourcing rantai pasokan berdasarkan dua pertanyaan:

  • Akankah pihak ketiga meningkatkan surplus rantai pasokan untuk meningkatkan aktivitas in-house?
  • Sampai seberapa tingkat resiko tumbuh dari outsourcing?
Walaupun keputusan untuk outsource dibuat, proses sourcing meliputi seleksi supplier, mendesain kontrak supplier, kolaborasi desain produk, pengadaan material atau pelayanan dan evaluasi performa supplier.

Supplier scoring and assessment adalah proses yang digunakan untuk tingkat performa supplier. Supplier selection adalah penggunaan output dari scoring supplier dan penilaian untuk mengidentifikasikan supplier yang sesuai.
Design collaboration membolehkan supplier dan manufaktur untuk bekerja bersama ketika mendesain komponen untuk produk final. Procurement adalah proses dimana supplier mengirim produk dalam respon untuk menempatkan pesanan pembeli. 
Sourcing planning and analysis
 adalah untuk menganalisis pengeluaran silang berbagai supplier dan kategori komponen untuk mengidentifikasi kesempatan untuk mengurangi biaya total. Ketika mendesain strategi sourcing, yang penting untuk perusahaan menjelaskan faktor pengaruh yang terbesar pada performa dan memperbaiki target dalam area.

In-house atau outsource

Perusahaan harus mempertimbangkan outsourcing jika pertumbuhan surplus besar dengan risiko yang kecil. Fungsi bentuk in-house lebih baik jika pertumbuhan surplus kecil atau peningkatan resiko besar.
  • Bagaimana pihak ketiga meningkatkan surplus rantai pasokan : pihak ketiga akan meningkatkan surplus rantai pasokan jika mereka meningkatkan nilai untuk konsumen atau mengurangi biaya rantai pasokan untuk perusahaan melakukan tugas in-house. Pihak ketiga dapat meningkatkan efektif surplus rantai pasokan jika mereka dapat mengumpulkan aset atau mengalir untuk tingkat yang lebih tinggi dari pada perusahaan itu sendiri. Berbagai jenis mekanisme pihak ketiga yang dapat digunakan untuk meningkatkan surplus, yaitu: jumlah kapasitas, jumlah inventory, jumlah transportasi dengan perantara transportasi, jumlah transportasi dengan perantara penyimpanan, jumlah gudang, jumlah pengadaan, jumlah informasi, jumlah piutang, jumlah relationship, biaya rendah dan kualitas tinggi.
  • Resiko menggunakan pihak ketiga : perusahaan harus mengevaluasi risiko : proses rusak, menaksir biaya koordinasi, mengurangi kontrak konsumen/supplier, hilangnya kemampuan internal dan pertumbuhan dalam kekuatan pihak ketiga, kebocoran informasi dan data sensitif, kontrak tidak efektif
Third and Fourth-Party Logistic Providers

Third-party logistic (3PL) berkinerja pada satu atau lebih aktifitas logistic yang berhubungan dengan aliran produk, informasi, dan dana yang dapat dikerjakan oleh perusahaan itu sendiri. Dengan meningkatnya globalisasi dari rantai pasokan, konsumen mencari pemain yang dapat mengelola secara virtual semua aspek dari rantai pasokan. Hal ini memunculkan konsep dari fourth-party logistic (4PL).

Supplier scoring and assessment

Ketika membandingkan perusahaan, banyak perusahaan membuat kekeliruan pokok hanya fokus pada kuota harga, mengabaikan fakta bahwa penyalur berbeda pada dimensi yang penting yang mempengaruhi biaya total yang digunakan supplier. Ketika menskor dan menakasir supplier, ada faktor lain daripada kuota harga yang harus dipertimbangkan: pemenuhan lead time, performa on-time, fleksibelitas pasokan, frekuensi pengiriman/minimum lot size, kualitas pasokan, biaya transportasi inbound, pricing term, kapabilitas koordinasi informasi, kapabilitas kalaborasi desain, tingkat bunga, pajak dan tugas, kelangsungan hidup supplier.

Supplier selection – auctions and negotiations

Sebelum menyeleksi supplier, perusahaan harus memutuskan apakah menggunakan single sourcing atau multiple supplier. Seleksi supplier adalah setelah menggunakan mekanisme yang variasi, meliputi offline competitive bid, reverse auction atau negosiasi langsung. Apapun juga mekasisme yang digunaka, seleksi supplier harus berdasarkan pada biaya total yang digunakan supplier dan tidak hanya harga pembeliaan. Mekanisme lelang yang sering digunakan dalam praktek dan menyoroti semua kekayaan mereka.

Lelang dalam rantai pasokan : pembeli perlu struktur lelang untuk meminimalkan biaya mereka dan mendapatkan supplier yang menang dengan biaya yang rendah dengan tawaran mereka. Lelang dibuka seperti lelang bahasa inggris mungkin untuk mencapai outcome. Prinsip dasar negosiasi : kuncy sukses negosiasi, untuk membuat outcome yang sama-sama untung.

Contracts and supply chain performance

Kontrak harus didesain untuk memfasilitasi outcome rantai pasokan dan miminimalkan tindakan yang merusak performa. Ada 3 pertanyaan ketika mendesain kontrak rantai pasokan:
  1. Bagaimana kontrak akan mempengaruhi profit perusahaan dan total profit rantai pasokan?
  2. Akankah insentif dalam kontrak memperkenalkan beberapa penyimpang informasi?
  3. Bagaimana kontrak akan mempengaruhi performa supplier sepanjang kunci ukuran performa?
Kontrak untuk ketersediaan produk dan profit rantai pasokan : untuk memperbaiki profit secara keseluruhan, supplier harus mendesain kontrak untuk mendukung pembeli untuk membeli lebih dan meningkatkan level ketersediaan produk. Memerlukan supplier untuk berbagi (ikut serta) dalam sebagian dari ketidak-pastian permintaan pembeli. 3 kontrak yang meningkatkan profit secara keseluruhan :
  1. Buyback contract : manufaktur dapat menggunakan buyback kontrak untuk meningkatkan profit. Buyback mendorong retailier untuk meningkatkan level ketersediaan produk. Buyback kontrak mendorong kearah usaha retailer yang lebih rendah dan meningkatkan penyimpangan informasi dalam rantai pasokan.
  2. Revenue – sharing contract : double marginalisasi dengan mengurangi biya per unit yang dikenakan untuk retailier, jadi secara efektig mengurangi biaya overstocking. Revenue – sharing contract meningkatkan penyimpangan informasi dan mendorong kearah usaha retailer yang lebih rendah dalam kasus overstocking, hanya hal nya yang dilakukan buy-back kontrak.
  3. Quantity flexibelity contract : double marginalisasi dengan memberikan retailer kemampuan untuk memodifikasi pesanan berdasarkan perbaikan pendekatan forecast untuk point sale. Hasil kontrak ini dalam rendahnya penyimpangan informasi daripada buy-back atau revenue sharing contract ketika supplier menjual untuk pembeli yang multiple atau kelebihan supplier, kapasitas fleksibel.
Design collaboration

Kolaborasi desain dengan supplier dapat membantu perusahaan mengurangi biaya, memperbaiki kualitas dan mengurangi waktu untuk pasar. secara tanggung jawab desain menggerakkan untuk supplier, penting untuk menjamin desain untuk kogistik dan desain untuk prinsip manufaktur untuk diikuti. Untuk sukses, manufaktur harus menjadi koordinator desain efektif dalam rantai pasokan.

The procurement process

Proses pengadaan untuk material langsung harus fokus pada memperbaiki koordinasi dan jarak pandang dengan supplier. Proses pengadaan untuk material tidak langsung harus fokus pada mengurangi biaya transaksi untuk setiap pesanan. Proses pengadaan dalam dua kasus harus konsolidasi pesanan untuk mendapatkan keuntungan skala ekonomis dan kuantitas diskon.

Sourcing planning and analysis

Pengeluraan pengadaan harus di analisis penyalur dan bagian untuk memastikan kecocokan skala ekonomi. Analisis performa supplier harus digunakan untuk membangun portfolio supplier dengan kekuatan komplementer. Murah, tetapi perform yang rendah, supplier harus menggunakan untuk persediaan berdasarkan permintaan sedangkan perform yang tinggi tapi lebih mahal, supplier harus menggunakan untuk menahan melawan variasi dalam permintaan dan persediaan dari sumber daya lain.

Risk management in sourcing

Resiko sourcing dapat juga dalam ketidakmampuan untuk memenuhi permintaan tepat waktu, meningkatkan dalam biaya pengadaan atau hilangnya properti intelektual. Penting untuk mengembangkan strategi peringanan yang membantu mengurangi bagian dari resiko Ketidakmampuan dalam memenuhi permintaan tepat waktu timbul karena gangguan atau penundaan dari sumber daya yang tersedia.

Making sourcing decisions in practice
  1. Menggunakan tim multifungsional
  2. Memastikan koordinasi yang sesuai ke lintas daerah dan bisnis unit
  3. Selalu mengevaluasi biaya total dari kepemilikan
  4. Membangun hubungan jangka panjang dengan kunci supplier






Referensi :
Chopra, Sunil & Peter Meindl. 2007. Supply Chain Management: Strategy, Planning & Operations, 3rd Edition. Pearson Prentice Hall.

http://kumpulan-artikel-ekonomi.blogspot.com/